Siang berganti malam
Malam kembali terang
Dalam kelabu,aku terus mengingat masa lalu
Suram...
Tak pernah ku sangka aku dapat melewatinya
Dalam sadar,batinku seakan berontak
Mencari arah dan jalan untuk keluar dari ranjau yang membuatku terisak
Kelam...
Tuhan
Apa ini memang sudah menjadi takdir dan jalan hidupku
Kehilangan dan terus kehilangan orang yang berarti
Secepat malam berganti siang
Kini,mungkin hanya waktu yang dapat menggulirkan keadaan
Suka duka yang berputar
Kadang indah kadang biru
Sebiru perasaanku yang tak kunjung mencerah
Ayu Gusti Santoso
Kamis, 28 November 2013
Kamis, 21 Maret 2013
Happy 18th Birthday!!
Happy 18th Birthday For Me !!
Terima kasih buat semua ucapannya. Mama,papa,alan,tante-tanteku,sepupuku,sahabat,temen,semuanya
terima kasih kalian udah sempet ngucapin ucapan ulang tahun ke aku. Makasih
buat mama yang udah kasih cake surprised jam 12 malem. Pokoknya makasih buat
semuanya.
Diumurku yang ke 18tahun ini,aku sangat bersyukur kepada
Allah SWT karena-Nya aku masih diberi kesehatan,kehidupan yang
layak,teman-teman yang baik,dan lainnya. Aku selalu mengucap syukur setiap aku
bernafas,aku bergerak,aku melangkah,aku berjalan,aku berlari,aku berbicara,aku
mendengar,aku menyentuh,aku merasa dan segalanya yang ada dalam jiwa dan
tubuhku yang terlahir dengan sempurna. Alhamdulillah…
Dari umur 1-5tahun,mama selalu merayakan ulang tahunku. Ada
kue tart besar,balon,badut,undangan yang meriah,bingkisan,hadiah,ah semuanya
terlihat sempurna. Aku sangaaaat bahagia. Rambutku dirias cantik,mama
membelikanku gaun layaknya Barbie,sepatu seperti Cinderella,bando seperti Putri
Salju,Perfect!! Aku sangat merindukan masa itu.
Tapi sekarang,di umurku yang sudah beranjak dewasa,dimana
aku sudah mulai mengenal dunia sesungguhnya, dunia yang tidak seanggun gaun
Barbie, sebening sepatu Cinderella, dan seindah bando Putri Salju. Tidak ada
lagi kue tart yang besar,badut pun sudah tidak pantas menghiburku, bahkan balon
terlalu mudah untuk aku pecahkan. Kini,yang ada adalah tantangan hidup yang
besar, mencari cara agar orang tua selalu terhibur, dan memecahkan masalah yang
siap kapan saja datang dalam kehidupanku.
Masa-masa kecil emang masa paling menyenangkan. Aku nggak
perlu mikirin masalah,aku nggak harus kerja buat dapetin sesuap nasi, aku
happy.
Tapi,sekali lagi makasih loh buat semua yang udah care dan
peduli sama aku. Ingat ya,selalu bersyukur adalah salah satu kunci keberhasilan.
Dengan bersyukur,hidup bakal lebih tenang dan nggak was-was mulu. Bertambah
umur,nggak harus selalu dirayakan dengan kemeriahan,nggak harus selalu
dibesar-besarkan. Justru dengan bertambahnya umur,kita harus lebih bersyukur
karena Tuhan masih member kesempatan dan waktu untuk mengubah diri menjadi lebih baik dan yang terbaik. AMIN!!
Senin, 21 Januari 2013
Senja
Ingin aku menghentikan waktu.
Ketika kamu menunjukan lukisan istimewamu itu. Duduk bersila bersamamu dibawah
langit senja sambil menebak-nebak kebisuanmu selama ini. Segelas teh hangat
sudah tidak lagi hangat. Kicauan burung kini berganti menjadi suara jangkrik.
Saat kamu membuka lukisan
itu,dengan perlahan dan teliti kamu menjelaskan isi lukisan itu padaku. Kamu
mencintainya sama seperti kamu mencintai langit senja ini. Kamu merasa nyaman
dan hangat bersamanya sama seperti saat kamu meminum teh hangat pagi hari.
Akupun bahagia,mengetahui bahwa jelas itu diriku pada lukisanmu.
~
Kenapa kamu terus menatapku?
Seakan-akan kamu menaruh harapan besar padaku. Atau mungkin aku yang terlalu
perasa,sampai-sampai aku tidak sadar diberi harapan palsu.
Kupandangi segelas teh hangat
itu. Nikmat dan hangat seperti ketika bersamamu. Kamu terdiam. Memandangi
langit cerah dengan penuh perhatian. Andai aku menjadi langit itu,apakah kamu
masih ingin memandangnya?
“Apa kamu nyaman bersamaku?”
“Tentu. Senyaman aku memandang
langit itu!”
“Lalu,apakah kamu mencintai
langit itu,Bim?”
Kamu membalas pertanyaanku dengan
menyesap teh hangat milikmu. Kosong. Aku sangat berharap kamu membalas
perasaanku. Tidak dengan hanya memandang,tapi aku juga ingin dicintai. Tentunya
olehmu.
3 tahun sudah kita berteman
sangat dekat. Sampai banyak orang menganggap aku dan kamu menjalin suatu
hubungan “lebih”. Apa tidak ada sedikitpun rasa sayang dan perhatian khususmu
ditujukan untukku?
Sampai detik inipun kamu masih
terdiam. Tidak ada tanda sama sekali untuk membalasku. Hanya suara air dan
kicauan burung yang terdengar diantara kebisuan kita. Pupuskah aku?
Tak lama kamu berdiri dari
kursimu. Meninggalkan pandanganmu terhadap langit itu. Ingin rasanya aku
menahan kepergianmu. Aku mau kamu terus memandang langit itu sampai kamu sadar
kalau kamu mencintainya. Agar kamu tidak keliru lagi untuk tidak berkata.
Tinggal aku,segelas teh
hangat,percikan air,kicauan burung,dan langit yang sudah mulai senja. Akankan
kamu kembali dan mengatakan apa yang aku harapkan. Lagi-lagi aku dilanda
perasaan gelisah. Aku hanya memainkan air kolam dan berharap kamu kembali
datang.
“Indah bukan langit senja ini?”
Aku terkejut. Bima datang membawa
sebuah lukisan yang gambarnya dihadapkan ke dadanya. Ingin rasaku melihatnya.
“Tentu. Bolehkah aku melihat
lukisan itu?”
“Buat apa kamu melihatnya? Tidak
ada yang istimewa untukmu.”
“Tapi istimewa untukmu bukan?”
“Seistimewa langit senja ini.”
bersambung…..
Minggu, 23 Desember 2012
Biru
“Bagai
mentari yang telah lama bersinar terang,bagai dedaunan segar dipagi hari yang
meneteskan tetesan air-air sejuk. Bagai sungai jernih di pedesaan yang belum
tersentuh jamuan manusia. Begitulah seharusnya aku,kamu dan mereka mengartikan
cinta. Cinta yang tulus dan jauh dari pengkhianatan. Saling menghargai dan tak
pernah menyakiti. Tidak mencaci tapi sederhana dalam memuji. Saling memberi dan
selalu mengasihi.”
Mengapa kamu memutuskan untuk membaca kisahku. Kisahku yang sebenarnya tidak ingin aku alami dan ternyata terjadi,lalu aku berbagi untuk saling memberi. Ketika rindu menghasutku untuk kembali,dan ego memaksaku untuk berhenti…berhenti untuk terus mencintai. Langkah yang biasa terdampingi,seketika kosong tanpa arah. Sendiri bukanlah suatu pilihan,melainkan cara untuk menutupi rasa sakit yang teramat ketika pengkhianatan merasuki sebuah hubungan.
Kata-kata bijak dan manis mudah Ia
ucapkan kepada siapapun,walau hati orang siapa yang tau,tapi apakah kamu
sanggup bertahan dalam sebuah hubungan yang sudah tercampur dengan
pengkhianatan.. Senyumku hanyalah sebuah drama yang sudah ditulis untuk
kemudian dilakoni oleh tokohnya. Dimana ia memainkannya dengan penuh
penghayatan dan akhirnya semua orang melihat bahwa itu dirinya.
Bintang dilangit menjadi saksi hati
seseorang itu. Membayangkannya mencumbu dan memeluk erat wanita lain dan
mengatakan hal-hal yang sama seperti apa yang pernah dikatakannya dulu padaku.
Sadarkah kamu,bahwa disini ada yang masih mengasihi dan selalu merindu?
Ingatkah kamu,kamu mengajakku untuk memulai dan membina suatu hubungan dengan
kata-kata manismu itu? Mungkin rasa dan perasaan itu sudah habis tertutupi oleh
kemunafikan yang mendalam.
Ikhlas adalah pilihanku saat ini.
Menyadari bahwa mentari sudah terbenam. Daun sudah tidak segar
kembali,berguguran dan terinjak-injak sana sini. Sungai tidak lagi jernih
karena tercampur hal-hal yang mungkin tidak bisa lagi untuk dibenahi. Hal yang
mudah untuk melupakan semua ini,walau berat hati dan imajinasi terus berlari.
Seakan membalikan telapak
tangan,kini kamu menghantuiku dengan berjuta cacian. Entah maksud rasa sayang
atau sekedar saran yang tersirat. Ungkapan yang tidak mampu kamu sampaikan
membuat hati tidak lagi bisa merasakan…. Bukankah cukup dengan perpisahan aku
dan kamu tidak lagi menjadi kita. Kita yang dulu berpegang erat dan selalu
memuji. Kita yang dulu saling mengasihi dan kini berubah mencaci dan membenci.
Air mata masih tersimpan rapi pada
tempatnya. Aku yang menahannya untuk keluar dan bertemu pada dunia karena aku
tidak ingin semua tau bahwa aku tersakiti. Jari jemari terus menggenggam satu
sama lain,erat. Mulut tidak berkata supaya mereka tertawa. Tertawa dengan
kediamanku. Diam yang akan membawa waktu untuk memutar keaadaan dimana aku
kembali tersenyum lepas dan tidak lagi ada bayangan masa lalu.
Benamkan rasa dendam yang
tersimpan,acuhkan ego untuk pembalasan. Jalan panjang masih menanti dan
menyinari hati yang sempat membisu masa lalu. Semua yang datang akan
pergi,menyisakan lembaran memori yang tidak mungkin dilupakan tapi tidak harus
untuk terus diingat. Kebahagiaanku adalah melihat mereka tersenyum,dalam
keadaan apapun.
Terima kasih karena sempat
mengasihi,terima kasih karena pernah memuji. Inilah sebuah keputusan,yang
mungkin terkesan walau sebenarnya menyakitkan. Sampai jumpa pada kisah-kisah
berikutnya ….. ~~
Minggu, 04 November 2012
Inilah Pendidikan di Negaraku
Inilah Pendidikan
di NegaraKu
Apa yang
akan kamu ucapkan ketika ada seseorang yang menanyakan pendapatmu tentang
pendidikan di Indonesia?
Saya
sebagai salah satu pelajar di Indonesia sangat merasakan suka cita dalam
belajar. Berbagai hambatan,masalah dan semacamnya memang perlu pemikiran dan
pengorbanan untuk diselesaikan.
Dalam
pembelajaran,tentunya kita membutuhkan sarana maupun prasarana untuk mendukung
kegiatan belajar. Tapi alangkah baiknya kita melihat perbedaan-perbedaan yang
lebih mendalam di dunia pendidikan Negara kita ,Indonesia tercinta…..
Guru,guru
adalah salah satu hal terpenting dalam pendidikan. Ucapan ‘Guru adalah Pahlawan
Tanpa Tanda Jasa” tentunya sudah tidak asing lagi di lingkungan kita. Tapi
menurut saya,hal tersebut perlu di maknai lebih dalam. Saat ini saya sedang
duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat ini,saya sangat menyadari bahwa kedudukan
guru dalam pembelajaran sangatlah penting. Kedudukan dalam hal kualitasnya juga
sangat berpengaruh. Walau buku adalah nomor satu untuk gudangnya ilmu. Tapi
saya yakin tidak semua orang bisa belajar hanya dengan membaca,mereka juga
perlu bimbingan.
Kembali
pada proses pendidikan. Alhamdulillah,dari SMP sampai SMA saya sekolah
gratis..tis..tidak ada pungutan apapun kecuali untuk beli buku,seragam dan
kebutuhan pribadi lainnya. Tapi tidak saat saya SD bahkan Tk,karena di
swasta.
Katanya
jaman sekarang tidak ada yang gratis bukan ? Ada yang gratis,tapi tidak
berkualitas. Sungguh ironi,pernyataan tersebut memang berlaku untuk pendidikan
di Indonesia. Faktanya,sekolah yang “Gratis” sungguh sangat berbeda dengan yang
“Berbayar”. Tidak perlu saya perjelas,mulai dari
fasilitas,sarana,kualitas,bahkan pergaulan. Bisa di bilang saat anak kota sudah
belajar dengan in-focus. Anak desa pedalaman masih perlu waktu untuk
menyebrangi sungai,melewati jembatan,dan hal lainnya untuk menuju surga ilmu
yaitu sekolah. Lalu,mana yang harus lebih diperhatikan? Dan siapa pihak yang
sepatutnya bertanggung jawab? Coba renungkan!
Kembali
pada guru.. Sosok guru adalah sosok yang perlu di teladani oleh pelajar.
Tapi,di teladani dalam hal apa? Guru mengajar..Orang tua disekolah. Guru juga orang tua untuk
anak-anaknya. Mengabdi untuk berbagi ilmu. Guru tidaklah hanya Ia mengajar di
sekolah. Pengertian guru sangat luas. Guru yang benar benar mengajar,membimbing
,memberi dan saling berbagi ilmu dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan itulah
seorang guru yang pantas untuk disebut sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”.
Guru memang suatu pekerjaan. Tapi disisi lain, menjadi seorang guru adalah “volunteer” yang sangat di butuhkan bagi
saudara-saudara kita yang kurang beruntung disana.
Lalu,apakah
kesejahteraan guru sudah dimaksimalkan?
Upah guru
yang bervariasi,sebenarnya juga mempengaruhi kualitas guru. Ya.. Inilah
pendidikan kita. Kita di didik supaya bisa mendidik lagi,mendidik lagi dan
terus mendidik. Belajar supaya bisa mengajar dan seterusnya. Saya percaya,semua
anak Indonesia berbakat dan pintar. Tinggal bagaimana mengasah bakat dan
kepintarannya itu. Tentunya dengan
pendidikan. Pendidikan yang berkualitas dan tidak mengandalkan satu pihak.
Seorang
manusia harus menempuh masa-masanya. Menemukan jatidirinya,membentuk karakter
dan kepribadiannya. Tentu semua itu dipengaruhi oleh pendidikan. Baik
pendidikan formal maupun nonformal.
Contohnya,dalam
pendidikan formal diterapkan pelajaran bahasa,baik itu bahasa Indonesia,bahasa
Inggris maupun bahasa lainnya. Mempelajari bahasa asing khususnya bahasa
Inggris itu memang sangatlah penting tapi jangan sampai kita sebagai warga
Negara Indonesia kehilangan jati diri kita sebagai orang Indonesia dengan
melupakan dan tidak mempelajari bahasanya lebih dalam. Seharusnya,hebat
tidaknya seseorang itu tidak hanya dilihat dari prestasi akademiknya saja.
Prestasi non akademik juga harus lebih di perhatikan.
Pendidikan
tidaklah hanya belajar matematika.fisika,kimia,biologi,sosiologi,ekonomi dan
semacamnya. Namun,pendidikan tentang tingkah laku juga tidak kalah penting di
ajarkan di sekolah-sekolah. Pintar tidak hanya dilihat dari per mata pelajaran,pintar
juga harus di pandang bagaimana siswa bersikap,bertutur kata,dan menghargai
orang lain. Tentu,peran yang sangat berpengaruh adalah guru. Kepercayaan siswa
sangat penuh terhadap tingkah laku guru. Apa yang di perbuat guru bisa saja
selalu mereka anggap benar. Maka dari itu,jangan jadikan prinsip bahwa guru
adalah suatu pekerjaan. Tapi,jadikanlah sebagai suatu pengorbanan,perjuangan
untuk memberi,membimbing dan berbagi ilmu bagi yang membutuhkannya….
Langganan:
Postingan (Atom)

