Selasa, 31 Januari 2012

Rapuh

Rapuh


“Aku tidak membenci laki-laki. Aku hanya butuh waktu untuk semua ini. Mungkin ini hanyalah ujian, agar aku bisa menjadi wanita yang lebih dewasa.”

   “Assalamuailakum ..” Ku ucapkan salam dengan hati yang sangat senang,ketika aku mendapat kabar bahwa aku di terima di salah satu SMP negeri favorit di Jakarta. Tapi entah mengapa,kesenangan ku seketika buyar ketika aku buka pintu rumah dan terdengar keributan dari luar.
   “Ya..Lebih baik kita cerai !!”
   “Baik,kalo memang itu maumu,aku terima,besok ku urus semua nya!”
Sebelum aku masuk,aku sempat mendengar perbincangan mereka,ya mereka… Orang tuaku. Aku sempat tercengang tak mengerti maksud pembicaraan mereka.
   “Papa ?Ada apa?” Papa membawa koper dan menuju pintu keluar.
   “Maafkan Papa,Nak. Mungkin ini jalan yang terbaik.”
   “Maksud papa?” Aku masih saja tidak mengerti. Tapi papa meninggalkanku begitu saja. Di masukkan koper yang Ia bawa ke dalam mobilnya. Lalu pergi tanpa meninggalkan sepatah jawaban dari pertanyaanku.
Aku lihat mama menangsis terdesak di ruang sana,lalu ku hampiri dia.
   “Mama dan Papa,kami memutuskan untuk berpisah Nak.” Belum aku bertanya apapun,mama sudah memberikan aku sebuah penjelasan. Mama memeluk ku erat. Namun aku masih belum bisa mengerti akan keadaan ini.
   “Tapi,kenapa?” aku mulai membuka mulutku untuk sebuah pertanyaan yang tertahan di fikiranku.
   “Ara, papamu….. Papa mu sudah menikah lagi dan mempunyai 2 orang anak disana. Mama ngga sanggup Nak. Jadi,mama memutuskan untuk berpisah.”
 Aku tercengang. Dan aku rasa badanku mulai melemas. Air seperti berhenti mengalir. Perasaan bahagiaku seketika berputar 360 derajat berbalik. Rapuh….Itulah yang aku rasakan saat ini. Mama melepaskan pelukan eratnya. Air matanya belum bisa berhenti. Belum pernah aku lihat mama menangis seperti ini. Yang aku tau,mama adalah wanita yang tegar. Walaupun aku belum bisa merasakan apa yang mama rasakan saat ini,karena aku belum pernah merasakan bagaimana menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.
   “Yasudah,sana cepat ganti bajumu. Mandi lalu makan!”
   “Ya. Ma…”
**
3 Tahun kemudian…

            Kini aku duduk di bangku SMA. Hari demi hari ku lewati di sekolah baruku. Aku harus lebih beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Sampai pada suatu saat,aku mengenal Diar. Laki-laki yang bisa mengubah pola hidupku. Ya,dia memang tampan,orang tuanya sangat kaya. Pujaan wanita manapun. Wanita remaja mana yang tidak mau menjadi seseorang yang special dalam hidupnya. Termasuk aku.
            “Woy,ngelamun aja. Lagi ngeliatin siapa?Diar? Hahaha.”
            “Ah elo Fit,bikin kaget aja, Nggak lagi ngelamun kok. Gue Cuma lagi ngapalin buat talaran nanti.”
            “Selalu aja begitu. Dari SMP elo tuh selalu muna.”
            “Udahlah. Gue mau ke kelas dulu ya.”
            “Eh tapi Ra,ini ada bingkisan di kolong meja lo. Sory gue ambil. Takut di mainin sama anak-anak iseng.”
            “Dari siapa?”
            “Gatau,gue kan nggak berani buka.” Jawab Fitri teman sebangku ku,sekaligus temanku sedari SMP.
Lalu,ku buka bingkisan berbungkus cokelat dengan pita bewarna merah itu.
            “Bunga?”
           
            Pulang sekolah,aku tunggu di kantin yah J

                                                                                    Diar

            “Alay banget sih,nih buat loe aja. Terus ntar,pulang sekolah loe aja yang dateng.” Kataku.
            “Hah? Gue emang suka banget sama Diar. Tapi gue jauh lebih suka kalo dia sama loe Ra.”
            “Oh jadi loe sekomplotan sama dia? Basi tau ga!”
Aku berlari ke kelas. Entah kenapa.hatiku sebenarnya berat. Dari dulu,memang banyak laki-laki yang menyukaiku. Tapi aku selalu menolaknya. Untuk penolakan kali ini,rasanya aku menyesal. Sejak perceraian kedua orang tuaku,aku memang tidak pernah berani coba-coba untuk menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Aku yakin,aku tidak bisa setegar mama. Aku tidak mau tersakiti seperti mama. Walaupun banyak temanku yang selalu memberiku semangat,tapi tetap saja aku belum bisa mengenal laki-laki lebih dekat.
           
            “Gue pulang duluan.”
            “Tapi Diar,Ra?” Tanya Fitri padaku.
Sengaja memang aku mempercepat langkahku untuk menghindari Diar. Aku tidak mau bertemu dengannya. Aku tidak mau menyimpan perasaan lebih dalam dengannya.
            “Araaa ….”
Sial itu Diar. Lalu aku berlari meghindarinya,Diar tetap mengejarku. Aku semakin takut Ia menghampiriku. Saking terlalu cepat aku berlari,aku terjatuh tersandung batu.
            “Aww .. Sial.” Aku berusaha untuk bangun,tapi rasanya sakit sekali.
            “Makanya,jangan coba-coba menghindari aku.”
            “Diar ?” aku tercengang ,ternyata Diar tepat ada di depan ku.
            “Kenapa? Kayanya kamu ketakutan banget ya?”
            Aku diam.
            “Ra? Kamu ga apa-apa?” Diar membantu membangunkan ku.
            “Elo tuh ya,udah tau gue jatoh. Bukannya tolongin kek ,apa kek. Ini malah ceramahin gue.”
            “Maaf .”
Aku terdiam. Tapi sebenarnya bingung. Belum pernah aku segugup ini di depan laki-laki. Apa iya aku….. Menyukainya ? -_-
            “Makasih ya.”
            “Tumben lembut. Gitu dong jadi cewek harus lembut.” Ledek Diar.
Dengan paksaan Diar, akhirnya aku menurutinya untuk menemaninya makan siang di kantin.
            “Kamu sebenernya cantik.. Tapi sayang…”
            “Apa? Kamu mau meledek ku lagi?”
            “Tapi sayang,ga ada yang mau sama kamu.Hahaha bercanda ih,jangan sangar gitu mukanya.”
            “Udah biasa kali.”
            “Gimana bunganya? Suka?” Tanya Diar padaku. Ia terlihat mulai serius.
            “Suka.” Jawabku singkat.
            “Berarti kamu juga suka aku ya?”
            Aku diam.      
            “Kenapa diem? Toh aku juga suka kamu.”
            “Oh…Emmm.. I..Ga ih.” Jawabku gugup.
            “Gugup? Nggak apa ?”
            “Maksud kamu apasih?”
            “Mau jadi pacar aku?”
            “Helooo ,mau?” Diar meyakinkanku sekali lagi. Aku terlamun.
            “Aku harus pulang sekarang. Maaf aku buru-buru.”
            “Tapi aku butuh jawaban kamu Ra.” Diar menarik tanganku.
            “Iya.” Aku meninggalkannya dengan sebuah senyuman. Aku berlari meninggalkannya. Tak ada tanda Diar mengejarku. Lalu, aku sadar aku sudah berlari terlalu jauh. Aku masih bingung dengan jawabanku tadi. Apa aku salah dengan jawabanku. Entah…..

**

            “Lo jadian sama Diar ya?” Tanya Fitri.
            “Gatau..”
            “Janga bohong loe,kemaren Diar cerita sama gue.”
            “Cerita apa?” 
            “Ya kalo loe nerima dia.”
            “Oh.” Jawabku singkat.

Lama kelamaan,hari demi hari aku akui kalau aku menyayangi Diar. Setiap istirahat sekolah,Diar mengajaku makan di kantin. Setiap pulang sekolah,aku selalu di antarnya pulang. Diar mulai sering main ke rumah ku. Yang tidak pernah ku sangka sebelumnya,Diar sudah mulai dekat dengan mama. Mama pun menyukai Diar. Mama terlihat senang aku bersama Diar.
Tidak terasa 1 tahun sudah aku menjalin hubungan dengan Diar. Tapi.. Semakin lama aku merasa ada yang berbeda….

“Diar,nanti malam datang ke rumah ku ya? Mama mengundangmu makan malam.” Ajakku selagi Diar mengantar ku pulang sekolah.
“Nggak bisa Ra,aku mau anter mama.”
“Oh yaudah.”
“Udah sampe,aku ga mampir ya langsung pulang aja.” Kata Diar.
“Ya,hati-hati ya.”

Diar pun pergi menggunakan mobil ayahnya. Ngga biasanya Diar bersikap dingin sama aku. Belakangan ini,dia memang mulai cuek. Tapi aku percaya sama dia,apapun keadaanya.

**

“Ara, Diar ngga jadi kesini?” Tanya mama.
“Bukannya ngga jadi ma,tapi emang ngga bisa.”
“Lah kamu mah bukan ngomong dari tadi,mama udah masak lebih.”
“Lupa ma.”
“Oh iya Ra,mama minta tolong dong ambilin gaun mama di butik nya Bu desi. Bawa mobil aja sana. Tapi hati-hati yah.”
“Iya tau ma. Yaudah mana kuncinya?”
“Diatas meja tuh ,hati-hati yah.”
“Ok.”

Sesampainya di depan toko butik ,aku lekas cepat-cepat turun,mengambil butik mama dan cepat-cepat pulang. Karena sebenarnya hari ini aku lagi nggak mood banget kemana-mana. Tapi karena mama yang nyuruhnya apa boleh buat. Sewaktu aku mau memasuki toko butik itu,aku ingat bahwa dompetku tertinggal di dalam mobil.
Tanpa kusadari,ada mobil parkir pas di sebelah kiri mobilku. Awalnya aku biasa saja,tapi setelah aku menelaah apa yang telah ku lihat. Aku mengenal mobil itu. Aku mengenal pengemudi dan orang di sebelahnya. Sesaat mereka berpegangan tangan dan pengemudi itu mencium kening wanita yang ada di sampingnya. Jelas sekali aku melihatnya. Entah mengapa air mataku mengalir deras. Aku tidak memperdulikan tukang parkir yang sudah menungguku karena mengira aku akan keluar dari parkiran itu. Tubuhku seperti kaku tak percaya apa yang baru saja aku lihat. Ya ,aku yakin dengan sangat ,bahwa pengemudi itu bernama Diar, dan wanita yang ada di sampingya adalah Fitri.

**

“Diar?” si pengemudi bersama wanita yang ada di sampingnya itu lalu keluar dari mobilnya. Aku menyapa mereka dengan penuh senyuman.
“Eehhh..mmm.. Ara?” Fitri meyapaku gugup.
“Semoga kalian langgeng yah. Aku memang suka sama Diar,tapi aku lebih bahagia kalau Diar sama kamu.”
Lalu aku masuk ke dalam mobil. Terlihat Diar ingin mengejarku namun di halang oleh Fitri. Aku berusaha keras untuk mengendalikan emosiku, Tapi sayang,aku tidak bisa, Akhirnya aku berhenti disuatu taman. Aku tidak mau terjadi apa-apa di jalan saat emosiku tidak bisa di kendalikan. Aku sudah mengabari mama. Aku mencoba tegar. Tegar seperti saat mama tau bahwa papa mempunyai wanita lain. Apa ini yang mama rasakan saat dulu mengetahui kenyataan bahwa papa lebih memilih wanita lain? Dulu memang aku belum bisa merasakan apa yang mama rasakan. Tapi setelah aku merasakannya saat ini,aku semakin yakin bahwa mamaku adalah wanita yang tegar.
Saat aku masih meneteskan air mataku,aku berfikir bahwa aku adalah manusia paling bodoh yang pernah ada. Aku sudah menangisi laki-laki yang tidak pantas untuk di tangisi. Apa ini yang dinamakan karma? Tidak,mungkin Tuhan memberi ujian kepadaku agar aku menjadi manusia yang lebih kuat dari sebelumnya. Aku sama sekali tidak membenci laki-laki. Tapi mungkin,aku hanya butuh waktu untuk kembali mengisi hari-hariku.

END