Ingin aku menghentikan waktu.
Ketika kamu menunjukan lukisan istimewamu itu. Duduk bersila bersamamu dibawah
langit senja sambil menebak-nebak kebisuanmu selama ini. Segelas teh hangat
sudah tidak lagi hangat. Kicauan burung kini berganti menjadi suara jangkrik.
Saat kamu membuka lukisan
itu,dengan perlahan dan teliti kamu menjelaskan isi lukisan itu padaku. Kamu
mencintainya sama seperti kamu mencintai langit senja ini. Kamu merasa nyaman
dan hangat bersamanya sama seperti saat kamu meminum teh hangat pagi hari.
Akupun bahagia,mengetahui bahwa jelas itu diriku pada lukisanmu.
~
Kenapa kamu terus menatapku?
Seakan-akan kamu menaruh harapan besar padaku. Atau mungkin aku yang terlalu
perasa,sampai-sampai aku tidak sadar diberi harapan palsu.
Kupandangi segelas teh hangat
itu. Nikmat dan hangat seperti ketika bersamamu. Kamu terdiam. Memandangi
langit cerah dengan penuh perhatian. Andai aku menjadi langit itu,apakah kamu
masih ingin memandangnya?
“Apa kamu nyaman bersamaku?”
“Tentu. Senyaman aku memandang
langit itu!”
“Lalu,apakah kamu mencintai
langit itu,Bim?”
Kamu membalas pertanyaanku dengan
menyesap teh hangat milikmu. Kosong. Aku sangat berharap kamu membalas
perasaanku. Tidak dengan hanya memandang,tapi aku juga ingin dicintai. Tentunya
olehmu.
3 tahun sudah kita berteman
sangat dekat. Sampai banyak orang menganggap aku dan kamu menjalin suatu
hubungan “lebih”. Apa tidak ada sedikitpun rasa sayang dan perhatian khususmu
ditujukan untukku?
Sampai detik inipun kamu masih
terdiam. Tidak ada tanda sama sekali untuk membalasku. Hanya suara air dan
kicauan burung yang terdengar diantara kebisuan kita. Pupuskah aku?
Tak lama kamu berdiri dari
kursimu. Meninggalkan pandanganmu terhadap langit itu. Ingin rasanya aku
menahan kepergianmu. Aku mau kamu terus memandang langit itu sampai kamu sadar
kalau kamu mencintainya. Agar kamu tidak keliru lagi untuk tidak berkata.
Tinggal aku,segelas teh
hangat,percikan air,kicauan burung,dan langit yang sudah mulai senja. Akankan
kamu kembali dan mengatakan apa yang aku harapkan. Lagi-lagi aku dilanda
perasaan gelisah. Aku hanya memainkan air kolam dan berharap kamu kembali
datang.
“Indah bukan langit senja ini?”
Aku terkejut. Bima datang membawa
sebuah lukisan yang gambarnya dihadapkan ke dadanya. Ingin rasaku melihatnya.
“Tentu. Bolehkah aku melihat
lukisan itu?”
“Buat apa kamu melihatnya? Tidak
ada yang istimewa untukmu.”
“Tapi istimewa untukmu bukan?”
“Seistimewa langit senja ini.”
bersambung…..
