Senin, 21 Januari 2013

Senja






Ingin aku menghentikan waktu. Ketika kamu menunjukan lukisan istimewamu itu. Duduk bersila bersamamu dibawah langit senja sambil menebak-nebak kebisuanmu selama ini. Segelas teh hangat sudah tidak lagi hangat. Kicauan burung kini berganti menjadi suara jangkrik.


Saat kamu membuka lukisan itu,dengan perlahan dan teliti kamu menjelaskan isi lukisan itu padaku. Kamu mencintainya sama seperti kamu mencintai langit senja ini. Kamu merasa nyaman dan hangat bersamanya sama seperti saat kamu meminum teh hangat pagi hari. Akupun bahagia,mengetahui bahwa jelas itu diriku pada lukisanmu.

~

Kenapa kamu terus menatapku? Seakan-akan kamu menaruh harapan besar padaku. Atau mungkin aku yang terlalu perasa,sampai-sampai aku tidak sadar diberi harapan palsu.

Kupandangi segelas teh hangat itu. Nikmat dan hangat seperti ketika bersamamu. Kamu terdiam. Memandangi langit cerah dengan penuh perhatian. Andai aku menjadi langit itu,apakah kamu masih ingin memandangnya?

“Apa kamu nyaman bersamaku?”
“Tentu. Senyaman aku memandang langit itu!”
“Lalu,apakah kamu mencintai langit itu,Bim?”

Kamu membalas pertanyaanku dengan menyesap teh hangat milikmu. Kosong. Aku sangat berharap kamu membalas perasaanku. Tidak dengan hanya memandang,tapi aku juga ingin dicintai. Tentunya olehmu.

3 tahun sudah kita berteman sangat dekat. Sampai banyak orang menganggap aku dan kamu menjalin suatu hubungan “lebih”. Apa tidak ada sedikitpun rasa sayang dan perhatian khususmu ditujukan untukku?

Sampai detik inipun kamu masih terdiam. Tidak ada tanda sama sekali untuk membalasku. Hanya suara air dan kicauan burung yang terdengar diantara kebisuan kita. Pupuskah aku?

Tak lama kamu berdiri dari kursimu. Meninggalkan pandanganmu terhadap langit itu. Ingin rasanya aku menahan kepergianmu. Aku mau kamu terus memandang langit itu sampai kamu sadar kalau kamu mencintainya. Agar kamu tidak keliru lagi untuk tidak berkata.

Tinggal aku,segelas teh hangat,percikan air,kicauan burung,dan langit yang sudah mulai senja. Akankan kamu kembali dan mengatakan apa yang aku harapkan. Lagi-lagi aku dilanda perasaan gelisah. Aku hanya memainkan air kolam dan berharap kamu kembali datang.

“Indah bukan langit senja ini?”
Aku terkejut. Bima datang membawa sebuah lukisan yang gambarnya dihadapkan ke dadanya. Ingin rasaku melihatnya.
“Tentu. Bolehkah aku melihat lukisan itu?”
“Buat apa kamu melihatnya? Tidak ada yang istimewa untukmu.”
“Tapi istimewa untukmu bukan?”
“Seistimewa langit senja ini.”

bersambung…..