Rabu, 24 September 2014

Hilang

Embun tiap pagi yang selalu kulihat,kini tak pernah lagi kujumpa. Kadang aku rindu. Sesekali ku tengok gerbang rumahku,melihat apakah ada seseorang yang sudah menunggu....

Tak ingin kulari,tapi tak lebih ingin ku berdiam diri.
Sendiri di balik tirai bersama dinginnya cuaca pagi.
Aku yang kini sedang berkelahi pada diri sendiri,yang tak tau lagi kemana harus bercurah hati.
Sepi.

Seperti cicak yang melepaskan ekornya,aku tetap masih bisa hidup.
Berdiri dibalik bayang-bayang dan sosok laki-laki yang mungkin tak kan pernah ku jumpai lagi.
Entah kemana dia pergi. Meninggalkan memori dan hati yang tersakiti.
Atau mungkin dia sedang menari-nari,bercanda ria dengan sang kekasih hati.

Sesekali kulihat wajah nya lewat lembaran lukisan yang pernah kita lalui.
Kadang aku tersenyum,kadang juga aku tertawa. Tidak sedih,namun hati menangis.
Aku ingat saat ia memegang jari jemariku erat. Dan dia bilang bahwa itu adalah tangan wanita yang sangat ia kagumi.
Aku menghelas nafas.

Embun itu sudah tiada.
Seseorang sudah tidak menunggumu di balik pintu.
Kini yang dikaguminya sudah beralih menjadi benci.
Entah apa salahnya.
Sampai embun bisa menyakiti hati. Dalam sekali.

Bagai kertas putih yang sudah ternodai. Itulah kepercayaan yang memang sulit untuk digenggam kembali,ketika sudah ada yang mengkhianati.
Mengapa ada cinta bila pada akhirnya harus ada yang tersakiti.
Mengapa cinta diciptakan bila pada akhirnya akan memudar secara perlahan.

Aku kembali menghela nafas. Menutup tirai,dan melanjutkan tidur agar aku dapat bertemu denganmu dalam bunga tidurku....