Minggu, 23 Desember 2012

Biru


“Bagai mentari yang telah lama bersinar terang,bagai dedaunan segar dipagi hari yang meneteskan tetesan air-air sejuk. Bagai sungai jernih di pedesaan yang belum tersentuh jamuan manusia. Begitulah seharusnya aku,kamu dan mereka mengartikan cinta. Cinta yang tulus dan jauh dari pengkhianatan. Saling menghargai dan tak pernah menyakiti. Tidak mencaci tapi sederhana dalam memuji. Saling memberi dan selalu mengasihi.”

            Mengapa kamu memutuskan untuk membaca kisahku. Kisahku yang sebenarnya tidak ingin aku alami dan ternyata terjadi,lalu aku berbagi untuk saling memberi. Ketika rindu menghasutku untuk kembali,dan ego memaksaku untuk berhenti…berhenti untuk terus mencintai. Langkah yang biasa terdampingi,seketika kosong tanpa arah. Sendiri bukanlah suatu pilihan,melainkan cara untuk menutupi rasa sakit yang teramat ketika pengkhianatan merasuki sebuah hubungan.
             Kata-kata bijak dan manis mudah Ia ucapkan kepada siapapun,walau hati orang siapa yang tau,tapi apakah kamu sanggup bertahan dalam sebuah hubungan yang sudah tercampur dengan pengkhianatan.. Senyumku hanyalah sebuah drama yang sudah ditulis untuk kemudian dilakoni oleh tokohnya. Dimana ia memainkannya dengan penuh penghayatan dan akhirnya semua orang melihat bahwa itu dirinya.
             Bintang dilangit menjadi saksi hati seseorang itu. Membayangkannya mencumbu dan memeluk erat wanita lain dan mengatakan hal-hal yang sama seperti apa yang pernah dikatakannya dulu padaku. Sadarkah kamu,bahwa disini ada yang masih mengasihi dan selalu merindu? Ingatkah kamu,kamu mengajakku untuk memulai dan membina suatu hubungan dengan kata-kata manismu itu? Mungkin rasa dan perasaan itu sudah habis tertutupi oleh kemunafikan yang mendalam.
             Ikhlas adalah pilihanku saat ini. Menyadari bahwa mentari sudah terbenam. Daun sudah tidak segar kembali,berguguran dan terinjak-injak sana sini. Sungai tidak lagi jernih karena tercampur hal-hal yang mungkin tidak bisa lagi untuk dibenahi. Hal yang mudah untuk melupakan semua ini,walau berat hati dan imajinasi terus berlari.
             Seakan membalikan telapak tangan,kini kamu menghantuiku dengan berjuta cacian. Entah maksud rasa sayang atau sekedar saran yang tersirat. Ungkapan yang tidak mampu kamu sampaikan membuat hati tidak lagi bisa merasakan…. Bukankah cukup dengan perpisahan aku dan kamu tidak lagi menjadi kita. Kita yang dulu berpegang erat dan selalu memuji. Kita yang dulu saling mengasihi dan kini berubah mencaci dan membenci.
             Air mata masih tersimpan rapi pada tempatnya. Aku yang menahannya untuk keluar dan bertemu pada dunia karena aku tidak ingin semua tau bahwa aku tersakiti. Jari jemari terus menggenggam satu sama lain,erat. Mulut tidak berkata supaya mereka tertawa. Tertawa dengan kediamanku. Diam yang akan membawa waktu untuk memutar keaadaan dimana aku kembali tersenyum lepas dan tidak lagi ada bayangan masa lalu.
             Benamkan rasa dendam yang tersimpan,acuhkan ego untuk pembalasan. Jalan panjang masih menanti dan menyinari hati yang sempat membisu masa lalu. Semua yang datang akan pergi,menyisakan lembaran memori yang tidak mungkin dilupakan tapi tidak harus untuk terus diingat. Kebahagiaanku adalah melihat mereka tersenyum,dalam keadaan apapun.
             Terima kasih karena sempat mengasihi,terima kasih karena pernah memuji. Inilah sebuah keputusan,yang mungkin terkesan walau sebenarnya menyakitkan. Sampai jumpa pada kisah-kisah berikutnya ….. ~~