“Bagai
mentari yang telah lama bersinar terang,bagai dedaunan segar dipagi hari yang
meneteskan tetesan air-air sejuk. Bagai sungai jernih di pedesaan yang belum
tersentuh jamuan manusia. Begitulah seharusnya aku,kamu dan mereka mengartikan
cinta. Cinta yang tulus dan jauh dari pengkhianatan. Saling menghargai dan tak
pernah menyakiti. Tidak mencaci tapi sederhana dalam memuji. Saling memberi dan
selalu mengasihi.”
Mengapa kamu memutuskan untuk membaca kisahku. Kisahku yang sebenarnya tidak ingin aku alami dan ternyata terjadi,lalu aku berbagi untuk saling memberi. Ketika rindu menghasutku untuk kembali,dan ego memaksaku untuk berhenti…berhenti untuk terus mencintai. Langkah yang biasa terdampingi,seketika kosong tanpa arah. Sendiri bukanlah suatu pilihan,melainkan cara untuk menutupi rasa sakit yang teramat ketika pengkhianatan merasuki sebuah hubungan.
Kata-kata bijak dan manis mudah Ia
ucapkan kepada siapapun,walau hati orang siapa yang tau,tapi apakah kamu
sanggup bertahan dalam sebuah hubungan yang sudah tercampur dengan
pengkhianatan.. Senyumku hanyalah sebuah drama yang sudah ditulis untuk
kemudian dilakoni oleh tokohnya. Dimana ia memainkannya dengan penuh
penghayatan dan akhirnya semua orang melihat bahwa itu dirinya.
Bintang dilangit menjadi saksi hati
seseorang itu. Membayangkannya mencumbu dan memeluk erat wanita lain dan
mengatakan hal-hal yang sama seperti apa yang pernah dikatakannya dulu padaku.
Sadarkah kamu,bahwa disini ada yang masih mengasihi dan selalu merindu?
Ingatkah kamu,kamu mengajakku untuk memulai dan membina suatu hubungan dengan
kata-kata manismu itu? Mungkin rasa dan perasaan itu sudah habis tertutupi oleh
kemunafikan yang mendalam.
Ikhlas adalah pilihanku saat ini.
Menyadari bahwa mentari sudah terbenam. Daun sudah tidak segar
kembali,berguguran dan terinjak-injak sana sini. Sungai tidak lagi jernih
karena tercampur hal-hal yang mungkin tidak bisa lagi untuk dibenahi. Hal yang
mudah untuk melupakan semua ini,walau berat hati dan imajinasi terus berlari.
Seakan membalikan telapak
tangan,kini kamu menghantuiku dengan berjuta cacian. Entah maksud rasa sayang
atau sekedar saran yang tersirat. Ungkapan yang tidak mampu kamu sampaikan
membuat hati tidak lagi bisa merasakan…. Bukankah cukup dengan perpisahan aku
dan kamu tidak lagi menjadi kita. Kita yang dulu berpegang erat dan selalu
memuji. Kita yang dulu saling mengasihi dan kini berubah mencaci dan membenci.
Air mata masih tersimpan rapi pada
tempatnya. Aku yang menahannya untuk keluar dan bertemu pada dunia karena aku
tidak ingin semua tau bahwa aku tersakiti. Jari jemari terus menggenggam satu
sama lain,erat. Mulut tidak berkata supaya mereka tertawa. Tertawa dengan
kediamanku. Diam yang akan membawa waktu untuk memutar keaadaan dimana aku
kembali tersenyum lepas dan tidak lagi ada bayangan masa lalu.
Benamkan rasa dendam yang
tersimpan,acuhkan ego untuk pembalasan. Jalan panjang masih menanti dan
menyinari hati yang sempat membisu masa lalu. Semua yang datang akan
pergi,menyisakan lembaran memori yang tidak mungkin dilupakan tapi tidak harus
untuk terus diingat. Kebahagiaanku adalah melihat mereka tersenyum,dalam
keadaan apapun.
Terima kasih karena sempat
mengasihi,terima kasih karena pernah memuji. Inilah sebuah keputusan,yang
mungkin terkesan walau sebenarnya menyakitkan. Sampai jumpa pada kisah-kisah
berikutnya ….. ~~