Sabtu, 06 Desember 2014

071214

Sepi sekali malam ini. Malam kemarin. Dan mungkin malam malam berikutnya.
Hanya mendengarkan musik-musik sedih,soundtrack drama korea,dan apapun yang bisa buat malan ini nggak begitu sepi. Hmm....
Ingin sekali aku mendengarkan kisah seseorang. Siapapun. Aku ingin dia memceritakan sebuah kejujuran. Apakah dia akan baik baik saja,atau sedikit gemetaran....
Kalau ia sedikit takut,bisakah aku mengenggam tangannya. Kalau ia takut disepelekan,bisakahn aku memberikan sedikit harapan. Kalau tidak ada lagi yang ingin berteman dengannya apakah bisa aku menjadi sahabat nya.
Ceritakan saja.... Kejujuran itu. Aku tau dia lelah untuk terus berpura pura.
Dunia begitu sempit untuk bercerita. Satu sama lain saling menusuk. Mungkin itu yang Ia takutkan. Oh .... Bahkan aku sedang menceritakan diriku sendiri sekarang.

Jumat, 05 Desember 2014

051214

Apa semua orang merasa bahagia?
Apa semua orang pernah menangis?
Apa hanya aku yang selalu menangis karena tidak merasa bahagia?
Kadang aku membenci malam,karena selalu mengingatkanku pada suatu kenangan.
Kutaruh sehelai tissue di samping bantal tidurku,untuk berjaga-jaga jika aku terbangun dari tidur ku hanya untuk menangis.
Bukan karena mimpi buruk. Tapi karena mimpi indah.
Aku menangis karena keindahan itu hanyalah mimpi.
Apa hanya aku yang sedang berharap pada malam ini....
Berharap ada perubahan yang indah ketika aku bangun dari tidurku.
Bertemu pangeran atau hanya sekedar merasakan kehangatan suatu keluarga yang tulus....
Selamat malam. Mimpi indah!

Rabu, 15 Oktober 2014

161014

Akankah kita kuat ketika kita menerima suatu hal yang tidak kita harapkan.
Ketika yang kita harapkan mengalami penundaan yang entah sampai kapan datang penantiannya.
Menunggu harapan yang tak kunjung datang, dalam lantunan doa serta angan.
Asa yang hampir putus kian menggeliat di dalam pikiran.
Kadang merasa ingin menyerah tapi tak tau arah.
Aku terdiam dan kadang mengheningkan suatu lamunan, yang membawaku pada keinginan.
Banyak sekali keinginan yang belum kucapai dan aku tak mengerti bagaimana cara tuk menggapainya.
Bukan maksud tidak bersyukur, namun aku ingin hidup yang teratur.
Aku sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Kadang hati dan pikiran kian bertarung dan berdebat memperebutkan gerakan serta tindakan.
Mengapa kita melihat manusia lain begitu sempurna seakan - akan tidak diliputinya segala masalah.
Bagaimana bisa semua kesdihan tertutupi oleh satu lengkungan manis dari bibir - bibir manusia.
Dalam malam yang bisu,serta dzikir yang terus ku sebut, aku berharap akan datang suatu penantian yang selama ini belum jua datang.

Rabu, 24 September 2014

Hilang

Embun tiap pagi yang selalu kulihat,kini tak pernah lagi kujumpa. Kadang aku rindu. Sesekali ku tengok gerbang rumahku,melihat apakah ada seseorang yang sudah menunggu....

Tak ingin kulari,tapi tak lebih ingin ku berdiam diri.
Sendiri di balik tirai bersama dinginnya cuaca pagi.
Aku yang kini sedang berkelahi pada diri sendiri,yang tak tau lagi kemana harus bercurah hati.
Sepi.

Seperti cicak yang melepaskan ekornya,aku tetap masih bisa hidup.
Berdiri dibalik bayang-bayang dan sosok laki-laki yang mungkin tak kan pernah ku jumpai lagi.
Entah kemana dia pergi. Meninggalkan memori dan hati yang tersakiti.
Atau mungkin dia sedang menari-nari,bercanda ria dengan sang kekasih hati.

Sesekali kulihat wajah nya lewat lembaran lukisan yang pernah kita lalui.
Kadang aku tersenyum,kadang juga aku tertawa. Tidak sedih,namun hati menangis.
Aku ingat saat ia memegang jari jemariku erat. Dan dia bilang bahwa itu adalah tangan wanita yang sangat ia kagumi.
Aku menghelas nafas.

Embun itu sudah tiada.
Seseorang sudah tidak menunggumu di balik pintu.
Kini yang dikaguminya sudah beralih menjadi benci.
Entah apa salahnya.
Sampai embun bisa menyakiti hati. Dalam sekali.

Bagai kertas putih yang sudah ternodai. Itulah kepercayaan yang memang sulit untuk digenggam kembali,ketika sudah ada yang mengkhianati.
Mengapa ada cinta bila pada akhirnya harus ada yang tersakiti.
Mengapa cinta diciptakan bila pada akhirnya akan memudar secara perlahan.

Aku kembali menghela nafas. Menutup tirai,dan melanjutkan tidur agar aku dapat bertemu denganmu dalam bunga tidurku....

Kamis, 28 November 2013

Fragile

Siang berganti malam
Malam kembali terang
Dalam kelabu,aku terus mengingat masa lalu
Suram...

Tak pernah ku sangka aku dapat melewatinya
Dalam sadar,batinku seakan berontak
Mencari arah dan jalan untuk keluar dari ranjau yang membuatku terisak
Kelam...

Tuhan
Apa ini memang sudah menjadi takdir dan jalan hidupku
Kehilangan dan terus kehilangan orang yang berarti
Secepat malam berganti siang 

Kini,mungkin hanya waktu yang dapat menggulirkan keadaan
Suka duka yang berputar
Kadang indah kadang biru
Sebiru perasaanku yang tak kunjung mencerah

Ayu Gusti Santoso


Kamis, 21 Maret 2013

Happy 18th Birthday!!


Happy 18th Birthday For Me !!

Terima kasih buat semua ucapannya. Mama,papa,alan,tante-tanteku,sepupuku,sahabat,temen,semuanya terima kasih kalian udah sempet ngucapin ucapan ulang tahun ke aku. Makasih buat mama yang udah kasih cake surprised jam 12 malem. Pokoknya makasih buat semuanya.
Diumurku yang ke 18tahun ini,aku sangat bersyukur kepada Allah SWT karena-Nya aku masih diberi kesehatan,kehidupan yang layak,teman-teman yang baik,dan lainnya. Aku selalu mengucap syukur setiap aku bernafas,aku bergerak,aku melangkah,aku berjalan,aku berlari,aku berbicara,aku mendengar,aku menyentuh,aku merasa dan segalanya yang ada dalam jiwa dan tubuhku yang terlahir dengan sempurna. Alhamdulillah…
Dari umur 1-5tahun,mama selalu merayakan ulang tahunku. Ada kue tart besar,balon,badut,undangan yang meriah,bingkisan,hadiah,ah semuanya terlihat sempurna. Aku sangaaaat bahagia. Rambutku dirias cantik,mama membelikanku gaun layaknya Barbie,sepatu seperti Cinderella,bando seperti Putri Salju,Perfect!! Aku sangat merindukan masa itu.
Tapi sekarang,di umurku yang sudah beranjak dewasa,dimana aku sudah mulai mengenal dunia sesungguhnya, dunia yang tidak seanggun gaun Barbie, sebening sepatu Cinderella, dan seindah bando Putri Salju. Tidak ada lagi kue tart yang besar,badut pun sudah tidak pantas menghiburku, bahkan balon terlalu mudah untuk aku pecahkan. Kini,yang ada adalah tantangan hidup yang besar, mencari cara agar orang tua selalu terhibur, dan memecahkan masalah yang siap kapan saja datang dalam kehidupanku.
Masa-masa kecil emang masa paling menyenangkan. Aku nggak perlu mikirin masalah,aku nggak harus kerja buat dapetin sesuap nasi, aku happy.
Tapi,sekali lagi makasih loh buat semua yang udah care dan peduli sama aku. Ingat ya,selalu bersyukur adalah salah satu kunci keberhasilan. Dengan bersyukur,hidup bakal lebih tenang dan nggak was-was mulu. Bertambah umur,nggak harus selalu dirayakan dengan kemeriahan,nggak harus selalu dibesar-besarkan. Justru dengan bertambahnya umur,kita harus lebih bersyukur karena Tuhan masih member kesempatan dan waktu untuk mengubah diri  menjadi lebih baik dan yang terbaik. AMIN!!

Senin, 21 Januari 2013

Senja






Ingin aku menghentikan waktu. Ketika kamu menunjukan lukisan istimewamu itu. Duduk bersila bersamamu dibawah langit senja sambil menebak-nebak kebisuanmu selama ini. Segelas teh hangat sudah tidak lagi hangat. Kicauan burung kini berganti menjadi suara jangkrik.


Saat kamu membuka lukisan itu,dengan perlahan dan teliti kamu menjelaskan isi lukisan itu padaku. Kamu mencintainya sama seperti kamu mencintai langit senja ini. Kamu merasa nyaman dan hangat bersamanya sama seperti saat kamu meminum teh hangat pagi hari. Akupun bahagia,mengetahui bahwa jelas itu diriku pada lukisanmu.

~

Kenapa kamu terus menatapku? Seakan-akan kamu menaruh harapan besar padaku. Atau mungkin aku yang terlalu perasa,sampai-sampai aku tidak sadar diberi harapan palsu.

Kupandangi segelas teh hangat itu. Nikmat dan hangat seperti ketika bersamamu. Kamu terdiam. Memandangi langit cerah dengan penuh perhatian. Andai aku menjadi langit itu,apakah kamu masih ingin memandangnya?

“Apa kamu nyaman bersamaku?”
“Tentu. Senyaman aku memandang langit itu!”
“Lalu,apakah kamu mencintai langit itu,Bim?”

Kamu membalas pertanyaanku dengan menyesap teh hangat milikmu. Kosong. Aku sangat berharap kamu membalas perasaanku. Tidak dengan hanya memandang,tapi aku juga ingin dicintai. Tentunya olehmu.

3 tahun sudah kita berteman sangat dekat. Sampai banyak orang menganggap aku dan kamu menjalin suatu hubungan “lebih”. Apa tidak ada sedikitpun rasa sayang dan perhatian khususmu ditujukan untukku?

Sampai detik inipun kamu masih terdiam. Tidak ada tanda sama sekali untuk membalasku. Hanya suara air dan kicauan burung yang terdengar diantara kebisuan kita. Pupuskah aku?

Tak lama kamu berdiri dari kursimu. Meninggalkan pandanganmu terhadap langit itu. Ingin rasanya aku menahan kepergianmu. Aku mau kamu terus memandang langit itu sampai kamu sadar kalau kamu mencintainya. Agar kamu tidak keliru lagi untuk tidak berkata.

Tinggal aku,segelas teh hangat,percikan air,kicauan burung,dan langit yang sudah mulai senja. Akankan kamu kembali dan mengatakan apa yang aku harapkan. Lagi-lagi aku dilanda perasaan gelisah. Aku hanya memainkan air kolam dan berharap kamu kembali datang.

“Indah bukan langit senja ini?”
Aku terkejut. Bima datang membawa sebuah lukisan yang gambarnya dihadapkan ke dadanya. Ingin rasaku melihatnya.
“Tentu. Bolehkah aku melihat lukisan itu?”
“Buat apa kamu melihatnya? Tidak ada yang istimewa untukmu.”
“Tapi istimewa untukmu bukan?”
“Seistimewa langit senja ini.”

bersambung…..