Senin, 21 Januari 2013

Senja






Ingin aku menghentikan waktu. Ketika kamu menunjukan lukisan istimewamu itu. Duduk bersila bersamamu dibawah langit senja sambil menebak-nebak kebisuanmu selama ini. Segelas teh hangat sudah tidak lagi hangat. Kicauan burung kini berganti menjadi suara jangkrik.


Saat kamu membuka lukisan itu,dengan perlahan dan teliti kamu menjelaskan isi lukisan itu padaku. Kamu mencintainya sama seperti kamu mencintai langit senja ini. Kamu merasa nyaman dan hangat bersamanya sama seperti saat kamu meminum teh hangat pagi hari. Akupun bahagia,mengetahui bahwa jelas itu diriku pada lukisanmu.

~

Kenapa kamu terus menatapku? Seakan-akan kamu menaruh harapan besar padaku. Atau mungkin aku yang terlalu perasa,sampai-sampai aku tidak sadar diberi harapan palsu.

Kupandangi segelas teh hangat itu. Nikmat dan hangat seperti ketika bersamamu. Kamu terdiam. Memandangi langit cerah dengan penuh perhatian. Andai aku menjadi langit itu,apakah kamu masih ingin memandangnya?

“Apa kamu nyaman bersamaku?”
“Tentu. Senyaman aku memandang langit itu!”
“Lalu,apakah kamu mencintai langit itu,Bim?”

Kamu membalas pertanyaanku dengan menyesap teh hangat milikmu. Kosong. Aku sangat berharap kamu membalas perasaanku. Tidak dengan hanya memandang,tapi aku juga ingin dicintai. Tentunya olehmu.

3 tahun sudah kita berteman sangat dekat. Sampai banyak orang menganggap aku dan kamu menjalin suatu hubungan “lebih”. Apa tidak ada sedikitpun rasa sayang dan perhatian khususmu ditujukan untukku?

Sampai detik inipun kamu masih terdiam. Tidak ada tanda sama sekali untuk membalasku. Hanya suara air dan kicauan burung yang terdengar diantara kebisuan kita. Pupuskah aku?

Tak lama kamu berdiri dari kursimu. Meninggalkan pandanganmu terhadap langit itu. Ingin rasanya aku menahan kepergianmu. Aku mau kamu terus memandang langit itu sampai kamu sadar kalau kamu mencintainya. Agar kamu tidak keliru lagi untuk tidak berkata.

Tinggal aku,segelas teh hangat,percikan air,kicauan burung,dan langit yang sudah mulai senja. Akankan kamu kembali dan mengatakan apa yang aku harapkan. Lagi-lagi aku dilanda perasaan gelisah. Aku hanya memainkan air kolam dan berharap kamu kembali datang.

“Indah bukan langit senja ini?”
Aku terkejut. Bima datang membawa sebuah lukisan yang gambarnya dihadapkan ke dadanya. Ingin rasaku melihatnya.
“Tentu. Bolehkah aku melihat lukisan itu?”
“Buat apa kamu melihatnya? Tidak ada yang istimewa untukmu.”
“Tapi istimewa untukmu bukan?”
“Seistimewa langit senja ini.”

bersambung…..

Minggu, 23 Desember 2012

Biru


“Bagai mentari yang telah lama bersinar terang,bagai dedaunan segar dipagi hari yang meneteskan tetesan air-air sejuk. Bagai sungai jernih di pedesaan yang belum tersentuh jamuan manusia. Begitulah seharusnya aku,kamu dan mereka mengartikan cinta. Cinta yang tulus dan jauh dari pengkhianatan. Saling menghargai dan tak pernah menyakiti. Tidak mencaci tapi sederhana dalam memuji. Saling memberi dan selalu mengasihi.”

            Mengapa kamu memutuskan untuk membaca kisahku. Kisahku yang sebenarnya tidak ingin aku alami dan ternyata terjadi,lalu aku berbagi untuk saling memberi. Ketika rindu menghasutku untuk kembali,dan ego memaksaku untuk berhenti…berhenti untuk terus mencintai. Langkah yang biasa terdampingi,seketika kosong tanpa arah. Sendiri bukanlah suatu pilihan,melainkan cara untuk menutupi rasa sakit yang teramat ketika pengkhianatan merasuki sebuah hubungan.
             Kata-kata bijak dan manis mudah Ia ucapkan kepada siapapun,walau hati orang siapa yang tau,tapi apakah kamu sanggup bertahan dalam sebuah hubungan yang sudah tercampur dengan pengkhianatan.. Senyumku hanyalah sebuah drama yang sudah ditulis untuk kemudian dilakoni oleh tokohnya. Dimana ia memainkannya dengan penuh penghayatan dan akhirnya semua orang melihat bahwa itu dirinya.
             Bintang dilangit menjadi saksi hati seseorang itu. Membayangkannya mencumbu dan memeluk erat wanita lain dan mengatakan hal-hal yang sama seperti apa yang pernah dikatakannya dulu padaku. Sadarkah kamu,bahwa disini ada yang masih mengasihi dan selalu merindu? Ingatkah kamu,kamu mengajakku untuk memulai dan membina suatu hubungan dengan kata-kata manismu itu? Mungkin rasa dan perasaan itu sudah habis tertutupi oleh kemunafikan yang mendalam.
             Ikhlas adalah pilihanku saat ini. Menyadari bahwa mentari sudah terbenam. Daun sudah tidak segar kembali,berguguran dan terinjak-injak sana sini. Sungai tidak lagi jernih karena tercampur hal-hal yang mungkin tidak bisa lagi untuk dibenahi. Hal yang mudah untuk melupakan semua ini,walau berat hati dan imajinasi terus berlari.
             Seakan membalikan telapak tangan,kini kamu menghantuiku dengan berjuta cacian. Entah maksud rasa sayang atau sekedar saran yang tersirat. Ungkapan yang tidak mampu kamu sampaikan membuat hati tidak lagi bisa merasakan…. Bukankah cukup dengan perpisahan aku dan kamu tidak lagi menjadi kita. Kita yang dulu berpegang erat dan selalu memuji. Kita yang dulu saling mengasihi dan kini berubah mencaci dan membenci.
             Air mata masih tersimpan rapi pada tempatnya. Aku yang menahannya untuk keluar dan bertemu pada dunia karena aku tidak ingin semua tau bahwa aku tersakiti. Jari jemari terus menggenggam satu sama lain,erat. Mulut tidak berkata supaya mereka tertawa. Tertawa dengan kediamanku. Diam yang akan membawa waktu untuk memutar keaadaan dimana aku kembali tersenyum lepas dan tidak lagi ada bayangan masa lalu.
             Benamkan rasa dendam yang tersimpan,acuhkan ego untuk pembalasan. Jalan panjang masih menanti dan menyinari hati yang sempat membisu masa lalu. Semua yang datang akan pergi,menyisakan lembaran memori yang tidak mungkin dilupakan tapi tidak harus untuk terus diingat. Kebahagiaanku adalah melihat mereka tersenyum,dalam keadaan apapun.
             Terima kasih karena sempat mengasihi,terima kasih karena pernah memuji. Inilah sebuah keputusan,yang mungkin terkesan walau sebenarnya menyakitkan. Sampai jumpa pada kisah-kisah berikutnya ….. ~~
            

Minggu, 04 November 2012

Inilah Pendidikan di Negaraku


Inilah Pendidikan di NegaraKu

Apa yang akan kamu ucapkan ketika ada seseorang yang menanyakan pendapatmu tentang pendidikan di Indonesia?
Saya sebagai salah satu pelajar di Indonesia sangat merasakan suka cita dalam belajar. Berbagai hambatan,masalah dan semacamnya memang perlu pemikiran dan pengorbanan untuk diselesaikan.
Dalam pembelajaran,tentunya kita membutuhkan sarana maupun prasarana untuk mendukung kegiatan belajar. Tapi alangkah baiknya kita melihat perbedaan-perbedaan yang lebih mendalam di dunia pendidikan Negara kita ,Indonesia tercinta…..
Guru,guru adalah salah satu hal terpenting dalam pendidikan. Ucapan ‘Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” tentunya sudah tidak asing lagi di lingkungan kita. Tapi menurut saya,hal tersebut perlu di maknai lebih dalam. Saat ini saya sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat ini,saya sangat menyadari bahwa kedudukan guru dalam pembelajaran sangatlah penting. Kedudukan dalam hal kualitasnya juga sangat berpengaruh. Walau buku adalah nomor satu untuk gudangnya ilmu. Tapi saya yakin tidak semua orang bisa belajar hanya dengan membaca,mereka juga perlu bimbingan.
Kembali pada proses pendidikan. Alhamdulillah,dari SMP sampai SMA saya sekolah gratis..tis..tidak ada pungutan apapun kecuali untuk beli buku,seragam dan kebutuhan pribadi lainnya. Tapi tidak saat saya SD bahkan Tk,karena di swasta. 
Katanya jaman sekarang tidak ada yang gratis bukan ? Ada yang gratis,tapi tidak berkualitas. Sungguh ironi,pernyataan tersebut memang berlaku untuk pendidikan di Indonesia. Faktanya,sekolah yang “Gratis” sungguh sangat berbeda dengan yang “Berbayar”. Tidak perlu saya perjelas,mulai dari fasilitas,sarana,kualitas,bahkan pergaulan. Bisa di bilang saat anak kota sudah belajar dengan in-focus. Anak desa pedalaman masih perlu waktu untuk menyebrangi sungai,melewati jembatan,dan hal lainnya untuk menuju surga ilmu yaitu sekolah. Lalu,mana yang harus lebih diperhatikan? Dan siapa pihak yang sepatutnya bertanggung jawab? Coba renungkan!
Kembali pada guru.. Sosok guru adalah sosok yang perlu di teladani oleh pelajar. Tapi,di teladani dalam hal apa? Guru mengajar..Orang tua  disekolah. Guru juga orang tua untuk anak-anaknya. Mengabdi untuk berbagi ilmu. Guru tidaklah hanya Ia mengajar di sekolah. Pengertian guru sangat luas. Guru yang benar benar mengajar,membimbing ,memberi dan saling berbagi ilmu dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan itulah seorang guru yang pantas untuk disebut sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Guru memang suatu pekerjaan. Tapi disisi lain, menjadi seorang guru adalah “volunteer” yang sangat di butuhkan bagi saudara-saudara kita yang kurang beruntung disana.
Lalu,apakah kesejahteraan guru sudah dimaksimalkan?
Upah guru yang bervariasi,sebenarnya juga mempengaruhi kualitas guru. Ya.. Inilah pendidikan kita. Kita di didik supaya bisa mendidik lagi,mendidik lagi dan terus mendidik. Belajar supaya bisa mengajar dan seterusnya. Saya percaya,semua anak Indonesia berbakat dan pintar. Tinggal bagaimana mengasah bakat dan kepintarannya itu.  Tentunya dengan pendidikan. Pendidikan yang berkualitas dan tidak mengandalkan  satu pihak.
Seorang manusia harus menempuh masa-masanya. Menemukan jatidirinya,membentuk karakter dan kepribadiannya. Tentu semua itu dipengaruhi oleh pendidikan. Baik pendidikan formal maupun nonformal. 
Contohnya,dalam pendidikan formal diterapkan pelajaran bahasa,baik itu bahasa Indonesia,bahasa Inggris maupun bahasa lainnya. Mempelajari bahasa asing khususnya bahasa Inggris itu memang sangatlah penting tapi jangan sampai kita sebagai warga Negara Indonesia kehilangan jati diri kita sebagai orang Indonesia dengan melupakan dan tidak mempelajari bahasanya lebih dalam. Seharusnya,hebat tidaknya seseorang itu tidak hanya dilihat dari prestasi akademiknya saja. Prestasi non akademik juga harus lebih di perhatikan.
  Pendidikan tidaklah hanya belajar matematika.fisika,kimia,biologi,sosiologi,ekonomi dan semacamnya. Namun,pendidikan tentang tingkah laku juga tidak kalah penting di ajarkan di sekolah-sekolah. Pintar tidak hanya dilihat dari per mata pelajaran,pintar juga harus di pandang bagaimana siswa bersikap,bertutur kata,dan menghargai orang lain. Tentu,peran yang sangat berpengaruh adalah guru. Kepercayaan siswa sangat penuh terhadap tingkah laku guru. Apa yang di perbuat guru bisa saja selalu mereka anggap benar. Maka dari itu,jangan jadikan prinsip bahwa guru adalah suatu pekerjaan. Tapi,jadikanlah sebagai suatu pengorbanan,perjuangan untuk memberi,membimbing dan berbagi ilmu bagi yang membutuhkannya….

Selasa, 31 Januari 2012

Rapuh

Rapuh


“Aku tidak membenci laki-laki. Aku hanya butuh waktu untuk semua ini. Mungkin ini hanyalah ujian, agar aku bisa menjadi wanita yang lebih dewasa.”

   “Assalamuailakum ..” Ku ucapkan salam dengan hati yang sangat senang,ketika aku mendapat kabar bahwa aku di terima di salah satu SMP negeri favorit di Jakarta. Tapi entah mengapa,kesenangan ku seketika buyar ketika aku buka pintu rumah dan terdengar keributan dari luar.
   “Ya..Lebih baik kita cerai !!”
   “Baik,kalo memang itu maumu,aku terima,besok ku urus semua nya!”
Sebelum aku masuk,aku sempat mendengar perbincangan mereka,ya mereka… Orang tuaku. Aku sempat tercengang tak mengerti maksud pembicaraan mereka.
   “Papa ?Ada apa?” Papa membawa koper dan menuju pintu keluar.
   “Maafkan Papa,Nak. Mungkin ini jalan yang terbaik.”
   “Maksud papa?” Aku masih saja tidak mengerti. Tapi papa meninggalkanku begitu saja. Di masukkan koper yang Ia bawa ke dalam mobilnya. Lalu pergi tanpa meninggalkan sepatah jawaban dari pertanyaanku.
Aku lihat mama menangsis terdesak di ruang sana,lalu ku hampiri dia.
   “Mama dan Papa,kami memutuskan untuk berpisah Nak.” Belum aku bertanya apapun,mama sudah memberikan aku sebuah penjelasan. Mama memeluk ku erat. Namun aku masih belum bisa mengerti akan keadaan ini.
   “Tapi,kenapa?” aku mulai membuka mulutku untuk sebuah pertanyaan yang tertahan di fikiranku.
   “Ara, papamu….. Papa mu sudah menikah lagi dan mempunyai 2 orang anak disana. Mama ngga sanggup Nak. Jadi,mama memutuskan untuk berpisah.”
 Aku tercengang. Dan aku rasa badanku mulai melemas. Air seperti berhenti mengalir. Perasaan bahagiaku seketika berputar 360 derajat berbalik. Rapuh….Itulah yang aku rasakan saat ini. Mama melepaskan pelukan eratnya. Air matanya belum bisa berhenti. Belum pernah aku lihat mama menangis seperti ini. Yang aku tau,mama adalah wanita yang tegar. Walaupun aku belum bisa merasakan apa yang mama rasakan saat ini,karena aku belum pernah merasakan bagaimana menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.
   “Yasudah,sana cepat ganti bajumu. Mandi lalu makan!”
   “Ya. Ma…”
**
3 Tahun kemudian…

            Kini aku duduk di bangku SMA. Hari demi hari ku lewati di sekolah baruku. Aku harus lebih beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Sampai pada suatu saat,aku mengenal Diar. Laki-laki yang bisa mengubah pola hidupku. Ya,dia memang tampan,orang tuanya sangat kaya. Pujaan wanita manapun. Wanita remaja mana yang tidak mau menjadi seseorang yang special dalam hidupnya. Termasuk aku.
            “Woy,ngelamun aja. Lagi ngeliatin siapa?Diar? Hahaha.”
            “Ah elo Fit,bikin kaget aja, Nggak lagi ngelamun kok. Gue Cuma lagi ngapalin buat talaran nanti.”
            “Selalu aja begitu. Dari SMP elo tuh selalu muna.”
            “Udahlah. Gue mau ke kelas dulu ya.”
            “Eh tapi Ra,ini ada bingkisan di kolong meja lo. Sory gue ambil. Takut di mainin sama anak-anak iseng.”
            “Dari siapa?”
            “Gatau,gue kan nggak berani buka.” Jawab Fitri teman sebangku ku,sekaligus temanku sedari SMP.
Lalu,ku buka bingkisan berbungkus cokelat dengan pita bewarna merah itu.
            “Bunga?”
           
            Pulang sekolah,aku tunggu di kantin yah J

                                                                                    Diar

            “Alay banget sih,nih buat loe aja. Terus ntar,pulang sekolah loe aja yang dateng.” Kataku.
            “Hah? Gue emang suka banget sama Diar. Tapi gue jauh lebih suka kalo dia sama loe Ra.”
            “Oh jadi loe sekomplotan sama dia? Basi tau ga!”
Aku berlari ke kelas. Entah kenapa.hatiku sebenarnya berat. Dari dulu,memang banyak laki-laki yang menyukaiku. Tapi aku selalu menolaknya. Untuk penolakan kali ini,rasanya aku menyesal. Sejak perceraian kedua orang tuaku,aku memang tidak pernah berani coba-coba untuk menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Aku yakin,aku tidak bisa setegar mama. Aku tidak mau tersakiti seperti mama. Walaupun banyak temanku yang selalu memberiku semangat,tapi tetap saja aku belum bisa mengenal laki-laki lebih dekat.
           
            “Gue pulang duluan.”
            “Tapi Diar,Ra?” Tanya Fitri padaku.
Sengaja memang aku mempercepat langkahku untuk menghindari Diar. Aku tidak mau bertemu dengannya. Aku tidak mau menyimpan perasaan lebih dalam dengannya.
            “Araaa ….”
Sial itu Diar. Lalu aku berlari meghindarinya,Diar tetap mengejarku. Aku semakin takut Ia menghampiriku. Saking terlalu cepat aku berlari,aku terjatuh tersandung batu.
            “Aww .. Sial.” Aku berusaha untuk bangun,tapi rasanya sakit sekali.
            “Makanya,jangan coba-coba menghindari aku.”
            “Diar ?” aku tercengang ,ternyata Diar tepat ada di depan ku.
            “Kenapa? Kayanya kamu ketakutan banget ya?”
            Aku diam.
            “Ra? Kamu ga apa-apa?” Diar membantu membangunkan ku.
            “Elo tuh ya,udah tau gue jatoh. Bukannya tolongin kek ,apa kek. Ini malah ceramahin gue.”
            “Maaf .”
Aku terdiam. Tapi sebenarnya bingung. Belum pernah aku segugup ini di depan laki-laki. Apa iya aku….. Menyukainya ? -_-
            “Makasih ya.”
            “Tumben lembut. Gitu dong jadi cewek harus lembut.” Ledek Diar.
Dengan paksaan Diar, akhirnya aku menurutinya untuk menemaninya makan siang di kantin.
            “Kamu sebenernya cantik.. Tapi sayang…”
            “Apa? Kamu mau meledek ku lagi?”
            “Tapi sayang,ga ada yang mau sama kamu.Hahaha bercanda ih,jangan sangar gitu mukanya.”
            “Udah biasa kali.”
            “Gimana bunganya? Suka?” Tanya Diar padaku. Ia terlihat mulai serius.
            “Suka.” Jawabku singkat.
            “Berarti kamu juga suka aku ya?”
            Aku diam.      
            “Kenapa diem? Toh aku juga suka kamu.”
            “Oh…Emmm.. I..Ga ih.” Jawabku gugup.
            “Gugup? Nggak apa ?”
            “Maksud kamu apasih?”
            “Mau jadi pacar aku?”
            “Helooo ,mau?” Diar meyakinkanku sekali lagi. Aku terlamun.
            “Aku harus pulang sekarang. Maaf aku buru-buru.”
            “Tapi aku butuh jawaban kamu Ra.” Diar menarik tanganku.
            “Iya.” Aku meninggalkannya dengan sebuah senyuman. Aku berlari meninggalkannya. Tak ada tanda Diar mengejarku. Lalu, aku sadar aku sudah berlari terlalu jauh. Aku masih bingung dengan jawabanku tadi. Apa aku salah dengan jawabanku. Entah…..

**

            “Lo jadian sama Diar ya?” Tanya Fitri.
            “Gatau..”
            “Janga bohong loe,kemaren Diar cerita sama gue.”
            “Cerita apa?” 
            “Ya kalo loe nerima dia.”
            “Oh.” Jawabku singkat.

Lama kelamaan,hari demi hari aku akui kalau aku menyayangi Diar. Setiap istirahat sekolah,Diar mengajaku makan di kantin. Setiap pulang sekolah,aku selalu di antarnya pulang. Diar mulai sering main ke rumah ku. Yang tidak pernah ku sangka sebelumnya,Diar sudah mulai dekat dengan mama. Mama pun menyukai Diar. Mama terlihat senang aku bersama Diar.
Tidak terasa 1 tahun sudah aku menjalin hubungan dengan Diar. Tapi.. Semakin lama aku merasa ada yang berbeda….

“Diar,nanti malam datang ke rumah ku ya? Mama mengundangmu makan malam.” Ajakku selagi Diar mengantar ku pulang sekolah.
“Nggak bisa Ra,aku mau anter mama.”
“Oh yaudah.”
“Udah sampe,aku ga mampir ya langsung pulang aja.” Kata Diar.
“Ya,hati-hati ya.”

Diar pun pergi menggunakan mobil ayahnya. Ngga biasanya Diar bersikap dingin sama aku. Belakangan ini,dia memang mulai cuek. Tapi aku percaya sama dia,apapun keadaanya.

**

“Ara, Diar ngga jadi kesini?” Tanya mama.
“Bukannya ngga jadi ma,tapi emang ngga bisa.”
“Lah kamu mah bukan ngomong dari tadi,mama udah masak lebih.”
“Lupa ma.”
“Oh iya Ra,mama minta tolong dong ambilin gaun mama di butik nya Bu desi. Bawa mobil aja sana. Tapi hati-hati yah.”
“Iya tau ma. Yaudah mana kuncinya?”
“Diatas meja tuh ,hati-hati yah.”
“Ok.”

Sesampainya di depan toko butik ,aku lekas cepat-cepat turun,mengambil butik mama dan cepat-cepat pulang. Karena sebenarnya hari ini aku lagi nggak mood banget kemana-mana. Tapi karena mama yang nyuruhnya apa boleh buat. Sewaktu aku mau memasuki toko butik itu,aku ingat bahwa dompetku tertinggal di dalam mobil.
Tanpa kusadari,ada mobil parkir pas di sebelah kiri mobilku. Awalnya aku biasa saja,tapi setelah aku menelaah apa yang telah ku lihat. Aku mengenal mobil itu. Aku mengenal pengemudi dan orang di sebelahnya. Sesaat mereka berpegangan tangan dan pengemudi itu mencium kening wanita yang ada di sampingnya. Jelas sekali aku melihatnya. Entah mengapa air mataku mengalir deras. Aku tidak memperdulikan tukang parkir yang sudah menungguku karena mengira aku akan keluar dari parkiran itu. Tubuhku seperti kaku tak percaya apa yang baru saja aku lihat. Ya ,aku yakin dengan sangat ,bahwa pengemudi itu bernama Diar, dan wanita yang ada di sampingya adalah Fitri.

**

“Diar?” si pengemudi bersama wanita yang ada di sampingnya itu lalu keluar dari mobilnya. Aku menyapa mereka dengan penuh senyuman.
“Eehhh..mmm.. Ara?” Fitri meyapaku gugup.
“Semoga kalian langgeng yah. Aku memang suka sama Diar,tapi aku lebih bahagia kalau Diar sama kamu.”
Lalu aku masuk ke dalam mobil. Terlihat Diar ingin mengejarku namun di halang oleh Fitri. Aku berusaha keras untuk mengendalikan emosiku, Tapi sayang,aku tidak bisa, Akhirnya aku berhenti disuatu taman. Aku tidak mau terjadi apa-apa di jalan saat emosiku tidak bisa di kendalikan. Aku sudah mengabari mama. Aku mencoba tegar. Tegar seperti saat mama tau bahwa papa mempunyai wanita lain. Apa ini yang mama rasakan saat dulu mengetahui kenyataan bahwa papa lebih memilih wanita lain? Dulu memang aku belum bisa merasakan apa yang mama rasakan. Tapi setelah aku merasakannya saat ini,aku semakin yakin bahwa mamaku adalah wanita yang tegar.
Saat aku masih meneteskan air mataku,aku berfikir bahwa aku adalah manusia paling bodoh yang pernah ada. Aku sudah menangisi laki-laki yang tidak pantas untuk di tangisi. Apa ini yang dinamakan karma? Tidak,mungkin Tuhan memberi ujian kepadaku agar aku menjadi manusia yang lebih kuat dari sebelumnya. Aku sama sekali tidak membenci laki-laki. Tapi mungkin,aku hanya butuh waktu untuk kembali mengisi hari-hariku.

END